Rabu, 08 April 2015

Binturong(Binturung), Hewan Langka Nyaris Punah di Kalimantan



Nama kelompok :
ANA NOVIANA                   714.7.1.0250
UMMU ROFIKA                   714.7.1.0241
WINDA                                  714.7.1.0237

Topik bahasan : Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Judul               : Binturong(Binturung), Hewan Langka Nyaris Punah di Kalimantan

12 Juni 2014
Pengenalan Hewan Binturung
Binturung (arctictis binturong) adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku Viverridae. Musang yang mirip beruang ini mulai diminati sebagai hewan peliharaan , memiliki beberapa keunikan. Ekor Binturung yang besar dan panjang dapat berfungsi sebagai kaki kelima guna berpegangan pada dahan. Binturung memiliki tubuh yang berukuran besar. Panjang tubuh Binturong antara 60 – 95 cm, sedangkan panjang ekornya antara 50 – 90 cm. Berat binatang sejenis Musang ini sekitar 6 – 14 kg, bahkan bisa mencapai 20 kg. Binturong berambut panjang dan kasar yang berwarna hitam seluruhnya atau kecoklatan, dengan taburan uban keputih-putihan atau kemerahan. Pada masing-masing ujung telinga terdapat seberkas rambut yang memanjang. Ekor Binturung berambut lebat dan panjang, terutama di bagian mendekati pangkal, sehingga terkesan gemuk. Dan pada Binturong betina memiliki organ khas berupa penis palsu (pseudo-penis).Binturung sebagaimana umumnya musang, merupakan binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Walaupun lebih sering berada di atas pepohonan (arboreal) Binturong juga turun ke tanah (terestrial). Kadang-kadang ada juga yang bangun dan aktif di siang hari. Hewan ini mengeluarkan semacam bau, seperti umumnya musang, dari kelenjar di bawah pangkal ekornya. Bau ini digunakan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Binturong betina melahirkan 2-6 anak, setelah mengandung selama kurang lebih 91 hari. Sebagai bangsa karnivora, Binturung (Arctictis binturong) memakan telur, hewan-hewan kecil semacam burung dan hewan pengerat. Namun Binturung juga memakan buah-buahan dan dedaunan.

Di beberapa daerah binatang ini disebut sebagai Binturong, Binturung, Menturung atau Menturun. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Binturong, Malay Civet Cat, Asian Bearcat,  Palawan Bearcat, atau secara ringkas Bearcat. Disebut  Bearcat mungkin dikarenakan karnivora berbulu hitam lebat ini bertampang mirip beruang yang berekor panjang, serta berkumis lebat dan panjang seperti kucing. Sedangkan di China binatang ini disebut Xiong-Li. Binturung (Arctictis binturong) tersebar mulai dari Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia (Jawa bagian barat, Kalimantan, Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina (provinsi Palawan), Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia binatang ini termasuk hewan yang dilindungi.
Penyebab Penurunan Habitat  Hewan Binturung di Kalimantan
Hingga saat ini populasi hewan tersebut mengalami penurunan. Populasinya berkurang karena pembukaan lahan untuk perkebunan. Berkurangnya populasi Binturong disebabkan oleh pemburuan liar dan hancurnya hutan sebagai akibat penggundulan hutan dan kebakaran hutan. Pemburuan liar Binturung dimanfaatkan untuk diambil kulitnya yang berbulu tebal, dan dimanfaatkan bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat tradisional. Hancurnya hutan mengakibatkan rusaknya habitat Binturung, sehingga populasinya di alam terus menurun. Pemelihara Binturong sebagai hewan peliharaan layaknya kucing dan anjing, karena Binatang ini memang lucu sebagai hewan peliharaan. Kini Bint rung termasuk hewan yang dikhawatirkan kelestariannya. Oleh IUCN Redlist  binatang ini dimasukkan dalam status konservasi Vulnerable (VU; Rentan). Selain itu juga terdaftar dalam CITES Apendiks III. Binatang ini oleh pemerintah Indonesia termasuk salah satu satwa yang dilindungi.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa pendekatan neo-humanis dalam mencegah dan mengurangi hal-hal yang mengakibatkan punahnya hewan Binturung :
Penebangan hutan secara liar, Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di Kalimantan tempat populasi hewan Binturung hanpir hilang karena pohon-pohon tempat tinggal mereka banyak yang di tebangi oleh manusia, oleh sebab itu perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempa ttentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.  Jika memang harus di lakukan penebangan hutan maka dilakukan penebangan hutan secara konservatif, jika menebang satu pohon maka  harus mengganti dengan menanam satu pohon. Pembenahan terhadap sistem hukum bagi yang menebang hutan secara liar. Sebaiknya warga tidak membuka lahan perkebunan di daerah hutan sebab akan mengurangi tempat tinggal hewan Binturung, seharusnya mereka membuka lahan perkebunan di daerah lahan kosong seperti padang rumput.
Pemburuan liar sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan sendiri. Pemburuan liar ini yang sangat berpengaruh besar pada hilangnya atau punahnya habitat hewan Binturung di Kalimantan. Untuk mencegah hal tersebut harus dimulai dari kesadaran diri sendiri dan pemerintah harus bersikap lebih tegas terhadap orang-orang yang melakukan perburuan liar. Mengenai pemilharaan hewan Binturung oleh masyarakat setempat juga merupakan penyebab hilangnya atau punahnya hewan Binturung. Untuk warga yang ingin memelihara hewan Binturung harus mempunyai surat izin dari pemerintah agar orang tersebut lebih bertanggung jawab terhadap hewan Binturung yang dipeliharanya
Konservasi Hewan Binturung
Perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan satwa liar baik Flora maupun Fauna. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal harus diselenggarakan dan difasilitasi berbagai  pelatihan untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya satwa liar.
 Dengan membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan Binturung seperti halnya Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok danTanjung Putting di Sumatera. Pemerintah Kalimantan harus juga membangun pusat rehabilitasi khusus hewan Binturung. Juga membangun tempat Penangkarannya baik secara In-situ mapun Ex-situ. Secara In-situ dengan memperbaiki tempat tinggal Binturung yang telah rusak dan merawat dan memeliharanya sehingga menjadi tempat tinggal Biunturung yang baru seperti halnya kebun binatang. Secara ex-situ dengan membuat kebun binatang di daerah lain khusus hewan Binturung dan memindahkan semua hewan Binturung ke tempat tersebut serta melakukan penangkaran di dalamnya, dengan sistem Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara hewan yang dilindungi dengan lingkungannya.  Ada pula cara untuk melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain: melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar, mengembalikan hewan piaraan kekawasan habitatnya, dan mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.