Nama kelompok :
ANA NOVIANA 714.7.1.0250
UMMU ROFIKA 714.7.1.0241
WINDA 714.7.1.0237
Topik bahasan : Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Judul : Binturong(Binturung), Hewan Langka
Nyaris Punah di Kalimantan
12 Juni 2014
Pengenalan Hewan
Binturung
Binturung (arctictis binturong)
adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku Viverridae. Musang yang mirip beruang ini mulai diminati sebagai hewan peliharaan , memiliki beberapa keunikan. Ekor Binturung yang besar dan panjang dapat berfungsi sebagai kaki
kelima guna berpegangan pada dahan. Binturung memiliki tubuh yang
berukuran besar. Panjang tubuh Binturong antara 60 – 95 cm, sedangkan panjang ekornya antara 50 – 90
cm. Berat binatang sejenis Musang ini sekitar 6 – 14 kg, bahkan bisa mencapai 20 kg. Binturong berambut panjang dan kasar yang
berwarna hitam seluruhnya atau kecoklatan, dengan taburan uban keputih-putihan atau kemerahan. Pada masing-masing ujung telinga terdapat seberkas rambut yang
memanjang. Ekor Binturung berambut lebat dan panjang, terutama di bagian mendekati pangkal, sehingga terkesan gemuk. Dan pada
Binturong betina memiliki organ khas berupa penis palsu (pseudo-penis).Binturung sebagaimana umumnya musang,
merupakan binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Walaupun lebih sering berada di atas pepohonan (arboreal) Binturong juga turun ke tanah (terestrial). Kadang-kadang ada juga yang
bangun dan aktif di siang hari. Hewan ini mengeluarkan semacam bau, seperti umumnya musang,
dari kelenjar di bawah pangkal ekornya. Bau ini digunakan untuk menandai
wilayah kekuasaannya. Binturong betina melahirkan 2-6 anak, setelah mengandung
selama kurang lebih 91 hari. Sebagai bangsa karnivora, Binturung (Arctictis
binturong) memakan telur, hewan-hewan kecil semacam burung dan hewan pengerat. Namun Binturung juga memakan buah-buahan dan dedaunan.
Di beberapa daerah binatang ini disebut sebagai Binturong, Binturung, Menturung atau Menturun. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Binturong, Malay
Civet Cat, Asian Bearcat, Palawan Bearcat, atau secara ringkas Bearcat. Disebut Bearcat mungkin dikarenakan karnivora berbulu hitam lebat ini bertampang mirip beruang yang berekor panjang, serta berkumis lebat dan panjang seperti kucing.
Sedangkan di China binatang ini disebut Xiong-Li. Binturung (Arctictis
binturong) tersebar mulai dari
Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia (Jawa bagian barat, Kalimantan,
Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina (provinsi Palawan),
Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia binatang ini termasuk hewan yang dilindungi.
Penyebab Penurunan Habitat Hewan
Binturung di Kalimantan
Hingga saat ini populasi hewan tersebut mengalami penurunan. Populasinya berkurang karena pembukaan lahan untuk perkebunan. Berkurangnya populasi
Binturong disebabkan oleh pemburuan liar dan hancurnya hutan sebagai akibat penggundulan hutan dan kebakaran hutan. Pemburuan
liar Binturung dimanfaatkan untuk diambil kulitnya yang
berbulu tebal, dan dimanfaatkan bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat tradisional. Hancurnya hutan mengakibatkan rusaknya habitat Binturung, sehingga populasinya di alam terus menurun. Pemelihara Binturong sebagai hewan peliharaan layaknya kucing dan anjing, karena Binatang ini memang lucu sebagai hewan peliharaan. Kini Bint rung termasuk hewan yang dikhawatirkan kelestariannya. Oleh IUCN
Redlist binatang ini dimasukkan dalam status konservasi Vulnerable (VU; Rentan). Selain itu juga terdaftar dalam CITES
Apendiks III. Binatang ini oleh pemerintah Indonesia termasuk salah satu satwa yang
dilindungi.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa
pendekatan neo-humanis dalam mencegah dan mengurangi hal-hal yang mengakibatkan
punahnya hewan Binturung :
Penebangan hutan secara liar, Penduduk
lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan untuk kayu bakar dan bahan
bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek
semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini
wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang
yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan bisa jadi sangat merusak. Sebagai
contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di Kalimantan tempat populasi hewan
Binturung hanpir hilang karena pohon-pohon tempat tinggal mereka banyak yang di
tebangi oleh manusia, oleh sebab itu perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada
penduduk setempa ttentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan
semua umat. Jika memang harus di lakukan
penebangan hutan maka dilakukan penebangan hutan secara konservatif, jika
menebang satu pohon maka harus mengganti
dengan menanam satu pohon. Pembenahan terhadap sistem hukum bagi yang menebang
hutan secara liar. Sebaiknya warga tidak membuka lahan
perkebunan di daerah hutan sebab akan mengurangi tempat tinggal hewan
Binturung, seharusnya mereka membuka lahan perkebunan di daerah lahan kosong
seperti padang rumput.
Pemburuan
liar sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi
kepentingan sendiri. Pemburuan liar ini yang sangat berpengaruh besar pada
hilangnya atau punahnya habitat hewan Binturung di Kalimantan. Untuk mencegah
hal tersebut harus dimulai dari kesadaran diri sendiri dan pemerintah harus
bersikap lebih tegas terhadap orang-orang yang melakukan perburuan liar.
Mengenai pemilharaan hewan Binturung oleh masyarakat setempat juga merupakan
penyebab hilangnya atau punahnya hewan Binturung. Untuk warga yang ingin
memelihara hewan Binturung harus mempunyai surat izin dari pemerintah agar
orang tersebut lebih bertanggung jawab terhadap hewan Binturung yang
dipeliharanya
Konservasi
Hewan Binturung
Perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan satwa liar baik Flora maupun Fauna. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak
yang berkepentingan.Dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal harus diselenggarakan dan difasilitasi berbagai pelatihan untuk meningkatkan kepedulian terhadap
pentingnya satwa liar.
Dengan membangun beberapa
pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan Binturung seperti
halnya Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok danTanjung Putting di Sumatera.
Pemerintah Kalimantan harus juga membangun pusat rehabilitasi khusus hewan
Binturung. Juga membangun tempat Penangkarannya baik secara In-situ mapun
Ex-situ. Secara In-situ dengan memperbaiki tempat tinggal Binturung yang telah
rusak dan merawat dan memeliharanya sehingga menjadi tempat tinggal Biunturung
yang baru seperti halnya kebun binatang. Secara ex-situ dengan membuat kebun
binatang di daerah lain khusus hewan Binturung dan memindahkan semua hewan
Binturung ke tempat tersebut serta melakukan penangkaran di dalamnya, dengan
sistem Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus
memperhatikan keseimbangan yang sehat antara hewan yang dilindungi dengan
lingkungannya. Ada pula cara untuk
melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain: melindungi hewan dari perburuan
dan pembunuhan liar, mengembalikan hewan piaraan kekawasan habitatnya, dan
mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar